BAHAYA MELAMPAU

Allah swt. melarang manusia bertindak ghuluw (berlebihan atau melampau) dalam segala hal, di antaranya memuliakan seseorang, samada Rasul, orang ‘alim, orang salih, wali atau sesiapa sahaja.
Kerana sikap ghuluw ini boleh menyebabkan seseorang itu dimuliakan dan ditempatkan lebih tinggi daripada kedudukan yang dianugerahkan Allah untuknya.


Jika seorang Nabi yang seharusnya hanya sebagai seorang hamba Allah dan Rasul-Nya, lalu dimuliakan sehingga dianggap sebagai tuhan, sebagai sumber kekuatan, memberi manfaat dan mencegah mudarat; ini boleh membawa kepada kekufuran yang nyata tanpa disengaja. Karena hanya Allah sumber kekuatan, hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan mencegah mudarat, bukan yang lain daripada-Nya.

Sikap ghuluw inilah yang pertama kali menyebabkan kemunculan syirik pada kaum Nabi Nuh (a.s), sebagaimana hal ini juga pernah terjadi pada agama Yahudi, yang menganggap Uzair sebagai anak Allah, dan agama Nasrani yang memuliakan Isa anak Maryam sebagai anak Allah. Maha suci Allah dari semua yang mereka sifatkan itu.

Sikap ghuluw ini pulalah yang telah menyebabkan sebahagian kaum Muslimin memuji Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan bershalawat dengan shalawat-shalawat melampau, memuliakan Baginda Sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berlebihan. Sikap berlebihan ini boleh menyebabkan ramai kaum Muslimin terkeluar dari jalan sebenar yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Allah telah memperingatkan dengan terang dan jelas sikap berlebihan ini. Mari kita perhatikan dengan saksama Firman Allah Ta’ala terhadap Ahli Kitab, yang juga sebagai peringatan kepada kita semua di bawah ini.

َيا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُواْ ثَلاَثَةٌ انتَهُواْ خَيْراً لَّكُمْ إِنَّمَا اللّهُ إِلَـهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَات وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً

"Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan atas nama Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan, '(Tuhan itu) tiga', berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (An-Nisa`: 171).

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahawa, Allah Ta’ala melarang Ahli Kitab bersikap ghuluw (berlebihan) di dalam agama, iaitu melampaui batas dan kadar yang disyariatkan sampai batas yang tidak disyariatkan. Seperti perkataan orang-orang Nasrani dengan ghuluw mereka terhadap Nabi Isa (a.s), yang kemudian mengangkat beliau dari kedudukan kenabian dan kerasulan kepada kedudukan ketuhanan yang sama sekali tidak layak bagi selain Allah. Maka sebagaimana hal lalai dan tidak teliti dalam beragama adalah dilarang, begitu pula berlebihan (ghuluw) juga dilarang.
Allah berfirman, "... dan janganlah kamu mengatakan atas nama Allah kecuali yang benar",

Ayat ini mengandungi tiga hal; dua di antaranya adalah larangan, yaitu:

Pertama, berkata dusta atas nama Allah, Kedua, berkata tanpa ilmu dalam masalah nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan, syariat, dan Rasul-rasul Allah. Ketiga, perintah untuk mengatakan yang benar dalam masalah-masalah ini." (lihat Tafsir Taisir Al-Karim Al-Rahman:179).

Di samping itu Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan bahaya sikap berlebihan (ghuluw) dengan sabda Baginda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.

"Wahai manusia, kamu jauhilah sikap berlebih-lebihan di dalam Agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah sikap berlebih-lebihan di dalam agama." (H.R. Ahmad 1854; Al-Nasai, 3059, dan Ibnu Majah 3029)

Salah satu sikap berlebihan (ghuluw) yang berlaku pada sebahagian masyarakat adalah bacaan shalawat Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Memanglah, Allah telah memerintahkan kita bershalawat atas Nabi kita, Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Q.S.Al-Ahzab:56).

Dan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

"Barangsiapa yang bershalawat atasku satu kali, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh (kali lipat)." (H.R.Muslim 408).

Dalam hadits lain Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيْئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ.

"Barangsiapa yang bershalawat atasku satu kali, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali, sepuluh dosa digugurkan dari dirinya, dan sepuluh derajat diangkat untuknya." (H.R.Ahmad 11587; dan Al--Nasai 1297)

Dalil-dalil ini, dan masih banyak dalil-dalil yang lain, sangat jelas menunjukkan bahawa bershalawat atas Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu yang utama dan amal yang mendatangkan pahala dan kebaikan. Akan tetapi, sikap berlebihan (ghuluw) sebagian kaum Muslimin telah menodai ibadah yang agung ini. Mereka ghuluw terhadap Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, memuji Baginda secara berlebihan, mentaqdis (suci) kan Baginda, dan bershalawat dengan shalawat-shalawat yang berlebihan, bahkan ada di antara kaum Muslimin yang yakin secara berlebihan terhadap diri Rasulullah, seakan-akan Baginda sudah mencapai tingkat ketuhanan; yang dapat menjawab doa, yang memberikan pertolongan dan keselamatan. Mereka lupa bahawa Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya, dengan bersabda:

لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللّهِ وَرَسُوْلُهُ.

"Jangan kamu memujiku berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa, anak Maryam berlebihan; karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakan (bahwa aku ini adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.R.Al-Bukhari:3445 dan Muslim:1691).

Di antara shalawat yang berlebihan yang selalu dikumandangkan sebahagian orang, dengan harapan semoga hal ini mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dalam beragama.

Pertama: Shalawat yang berbunyi,

اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ....

"Ya Allah, bershalawatlah dengan shalawat yang sempurna dan salamlah dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad, yang dengannya ikatan-ikatan (permasalahan) terlepas, segala kesusahan mendapat jalan keluar, semua hajat terpenuhi, semua keinginan dapat diraih, …"

Mari perhatikan dengan baik kata-kata dalam kalimat shalawat ini. Pertama, shalawat ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, kalau ini dianggap sebagai tawassul, maka ini adalah tawassul yang tidak ada dasarnya di dalam sunnah Nabi Sallallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketiga, kalau permohonan-permohonan dalam kalimat ini diungkapkan dan diiringi dengan keyakinan bahawa Nabi Sallallallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan atau memenuhi hajat orang yang mengucapkannya, maka dia adalah shalawat yang sangat berbahaya yang boleh membawa kepada syirik.

Maka sebagai seorang Muslim yang cintakan sunnah mestilah meninggalkan bacaan-bacaan seperti ini, agar terhindar dari hal-hal yang tidak perlu terjadi bagi orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat.

Kedua: Dalam Al-Burdah yang ditulis oleh Al-Bushiri, yang kemudian dikenal dengan Burdah Al-Bushiri, yang biasa kita dengar :

يَا رَبِّ، بِالْمُصْطَفَى، بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى، يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ.

"Ya Rabbi, dengan orang pilihan (al-Mushthafa) sampaikanlah mak-sud-maksud kami, dan ampunilah untuk kami apa-apa yang telah lalu, wahai Dzat yang luas kebaikan(Nya) …"
Ini juga tawassul yang sama dengan sebelumnya.

Dan perhatikan perkataan Al-Bushiri yang lain mengatakan (sebagaimana yang dinukil oleh Al-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu di dalam Al-Shufiyah Fi Mizan Al-Kitab wa Al-Sunnah m/s 40).

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمَمِ

Wahai manusia yang paling mulia, aku tidak memiliki tempat berlindung selainmu di saat terjadi petaka yang banyak.

Al-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu memberi ulasan baris sya'ir ini, "Penyair ini beristighatsah (minta tolong) kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana dia mengatakan, 'Aku tidak mendapatkan kepada siapa aku kembali (berlindung) ketika turunnya malapetaka kecuali engkau. Ini adalah di antara syirik akbar yang dapat menyebabkan pemiliknya (orang yang mengatakannya) kekal di dalam neraka bila dia tidak bertaubat, berdasarkan Firman Allah Ta’ala,

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ

"Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) dapat mendatangkan mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (Q.S.Yunus: 106).

Dan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ.

"Barangsiapa yang mati sedangkan dia berdoa kepada selain Allah yang menjadi sekutu (bagiNya), maka dia masuk neraka." (H.R.Al-Bukhari 4497; dan Muslim 92)." Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Jamil Zainu .

Dan masih banyak lagi pujian-pujian yang diperuntukkan kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kadang-kadang sangat berlebihan (ghuluw).
Karena itu mari kita bershalawat sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dengan lafazh-lafazh shalawat yang Baginda ajarkan. Kita mesti senantiasa ingat bahawa syarat amal diterima oleh Allah, bukan sahaja ikhlas karena Allah semata, tetapi tata cara dan sifat dari ibadah tersebut mestilah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila salah satu di antara dua syarat ini tidak ada, maka amal yang kita kerjakan adalah sia-sia belaka. Seperti seorang yang ikhlas melaksanakan solat Subuh, tetapi sengaja melakukannya tiga raka'at, maka keikhlasan itu tidak mempunyai makna. Seseorang ikhlas mengorbankan hartanya untuk melaksanakan haji tetapi dia tidak melakukannya sebagaimana ketentuan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hajinya adalah kabur bukan mabrur. Dan begitu pula, apabila kita bershalawat kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak cukup hanya karena Allah, tetapi juga mestilah shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Sallallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara shalawat Nabi yang disyari'atkan adalah:

1. Shalawat Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ َبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
2. Shalawat Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasai,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
3. Shalawat Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Al-Nasai,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Comments :

0 comments to “BAHAYA MELAMPAU”

Post a Comment