Wahabi Adalah Wahabi
Aku nasihatkan, rujukan kita adalah al-Qur’an dan sunnah Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku katakan, hadis hendaklah dipastikan sahih dari Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku cuba amalkan ibadatku mengikut cara Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku cuba amalkan solat mengikut cara Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku nasihatkan bahawa amalan itu dan ini bukan dari Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku katakan ramai guru-guru kini tidak mengajar dengan kaedah yang asli
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku bertanya guru, apakah dalil sahih untuk aku ikuti
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku katakan agama ini tidak semesti semuanya mengikut as-Syafie
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku katakan, khurafat, syirik dan bid’ah amat dilarang oleh Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku tidak hadiri ke nduri arwah kerana ianya dilarang oleh Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku mengatakan kenduri arwah juga dilarang oleh as-Syafie
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku katakan amalan khusus Nisfu Sya’ban bukan diajar oleh Nabi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku juga katakan ianya juga dilarang oleh al-Qaradhawi
Lalu aku dipanggil Wahabi
Aku pun tidak tahu, siapakah sebenarnya Wahabi?
Kata mereka Wahabi adalah Wahabi
Aku bertanya lagi, siapakah sebenarnya Wahabi?
Kata mereka Wahabi adalah Wahabi
Aku semakin bingung siapa itu Wahabi
Namun …
Jika benar Wahabi adalah yang nak ikut sunnah Nabi… Biarlah aku
dipanggil Wahabi
Jika benar Wahabi yang melarang khurafat, syirik dan bid’ah dari
diikuti… Biarlah aku dipanggil Wahabi
Jika Wahabi hanya beramal dengan amalan yang sahih dari
Nabi…Biarlah aku dipanggil Wahabi
Aku ingin mendapat keredhaan dari Ilahi
Biarlah aku dip anggil Wahabi
Semoga di akhirat bersama Nabi aku berdiri
Biarkan aku dipanggil Wahabi
Aku hanya inginkan syafaat Nabi untuk syurga yang kekal abadi
Biarlah aku terus dipanggil Wahabi
dari :http://abusyakirin.wordpress.com
KASIHAN HAMBA ALLAH YANG SEORANG NI
sabili, 17 July 2009Misteri Wahhabi
sabili, 08 July 2009Di Malaysia pula, perkataan ‘wahhabi’ adalah perkataan misteri. Apa tidaknya, ramai yang menyebutnya atau menfitnah orang lain dengan menggunakan perkataan itu, padahal mereka pun tidak faham. Bagi mereka, itu adalah senjata untuk mempertahankan diri ketika dikritik. Saya masih ingat, di satu tempat di sebelah Utara, apabila ada imam yang mengenakan bayaran untuk solat dan zikirnya, lalu dia dikritik atas sikap salahguna agama untuk kepentingan diri, dengan mudah dia menjawab: “siapa tak setuju dengan saya dia wahhabi”. Pemberi nasihat yang barangkali tidak terdedah kepada banyak maklumat dan kali pertama mendengar perkataan itu, terpinga-pinga bertanya: “apa itu wahhabi?”. Jawab tok imam: “Siapa yang mengkritik ustaz dia wahhabi”. Maka tidaklah berani lagi ‘penasihat’ itu berbeza pandangan dengan ‘tok imam’ dan mempertikaikan ‘infallibility’ ustaz, takut jadi wahhabi.
http://drmaza.com/home/?p=664
Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat Dan Puasa Di Bulan Rajab
sabili, 02 July 2009Apabila kita memperhatikan hari-hari, mingu-minggu, bulan-bulan, sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita akan mendapatkan bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mengistimewakan sebagian dari sebagian lainnya dengan keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada bulan yang dipandang lebih utama dari bulan lainnya, seperti bulan Ramadhan dengan kewajipan puasa di waktu siang dan sunnah menambah ibadah di waktu malamnya. Di antara bulan-bulan itu ada pula yang dipilih sebagai bulan haram atau bulan yang dihormati, dan diharamkan berperang pada bulan-bulan itu.
Allah juga mengkhususkan hari Jumaat dalam seminggu untuk berkumpul shalat Jumaat dan mendengar khutbah yang berisi peringatan dan nasihat.
Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad,[1] bahwa Jum’at mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengkhususkan ibadah pada malam Jum’at atau puasa pada hari Jum’at, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumaat untuk beribadah dari malam-malam yang lain dan jangan pula kalian mengkhususkan puasa pada hari Jumaat dari hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari Jumaat itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa padanya.” [HR. Muslim (no. 1144 (148)) dan Ibnu Hibban (no. 3603), lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 980)]
Allah Yang Mahabijaksana telah mengutamakan sebagian waktu malam dan siang dengan menjanjikan terkabulnya do’a dan terpenuhinya permintaan. Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama sesudah pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka dianggap sebagai generasi terbaik apabila dibandingkan dengan generasi berikutnya sampai hari Kiamat. Ada beberapa tempat dan masjid yang diutamakan oleh Allah dibandingkan tempat dan masjid lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.
Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah shalat dan puasa padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua haditsnya sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.
Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits palsu tentang keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.
HADITS PERTAMA
“Artinya : Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku”
Keterangan: HADITS INI “ MAUDHU"
Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadits ini maudhu’.” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]
Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:
“Artinya : Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaaib...”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’
Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): “Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid Ath-Thawil dari Anas, secara marfu’. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if (no. 168-169)]
Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: “Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” [Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]
Imam adz-Dzahaby berkata: “ ’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits.”
Kata para ulama lainnya: “Dia dituduh membuat hadits palsu tentang shalat ar-Raghaa'ib.” [Lihat: Mizaanul I’tidal (III/142-143, no. 5879)]
HADITS KEDUA
“Artinya : Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur'an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’
Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.” [Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)]
HADITS KETIGA:
“Artinya : Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melalui as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab (dihitung), dan tidak disiksa.’”
Keterangan: HADITS MAUDHU’
Kata Ibnul Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya).” [Lihat: al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa'idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).]
HADITS KEEMPAT
“Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum dia mati)”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’
Kata Ibnul Jauzy: “Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” [Al-Maudhu’at (II/123-124).]
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah rawi yang lemah. [Lihat: Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]
HADITS KELIMA“Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.”
Keterangan: HADITS INI SANGAT LEMAH
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu’.
Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa'ib, dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat: al-Fawaa-id al-Majmu’ah (no. 290)]
Kata Imam an-Nasa'i: “Furaat bin as-Saa'ib Matrukul hadits.” Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: “Para Ahli Hadits meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni.” [Lihat: adh-Dhu’afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa'i (no. 512), al-Jarh wat Ta’dil (VII/80), Mizaanul I’tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).]
HADITS KEENAM
“Artinya : Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan ‘Rajab’ airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberinya minum dari air sungai itu.”
Keterangan: HADITS INI BATHIL
Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Imran, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, ...”
Imam adz-Dzahaby berkata: “Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur bin Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini adalah bathil.” [Lihat Mizaanul I’tidal (IV/ 189)]
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Musa bin ‘Imraan adalah majhul dan aku tidak mengenalnya.” [Lihat: Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 1898)]
HADITS KETUJUH.
“Artinya : Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa lapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya lapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisab(menghitung)nya dengan hisab yang mudah.”
Keterangan: HADITS INI PALSU
Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa'idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani berkata: “Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu’ah, ia berkata: ‘Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu’.’”
Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:
[1]. ‘Amr bin al-Azhar al-‘Ataky.
Imam an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadits.” Sedangkan kata Imam al-Bukhari: “Dia dituduh sebagai pendusta.” Kata Imam Ahmad: “Dia sering memalsukan hadits.” [Periksa, adh-Dhu’afa wal Matrukin (no. 478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I’tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta’dil (VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353)]
[2]. Abaan bin Abi ‘Ayyasy, seorang Tabi’in shaghiir.
Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya).” Kata Yahya bin Ma’in: “Dia matruk.” Dan beliau pernah berkata: “Dia rawi yang lemah.” [Lihat: Adh Dhu’afa wal Matrukin (no. 21), Mizaanul I’tidal (I/10), al-Jarh wat Ta’dil (II/295), Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142)]
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syeikh dari jalan Ibnu ‘Ulwan dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: “Ibnu ‘Ulwan adalah pemalsu hadits.” [Lihat al-Fawaaidul Majmu’ah (hal. 102, no. 288).
Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits tentang keutamaan Rajab, shalat Raghaa'ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena semuanya sangat lemah dan palsu, penulis mencukupkan tujuh hadits saja.
[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
copy:http://www.almanhaj.or.id (dengan sedikit penyelarasan bahasa)
BERIKAN HAKNYA, WALAUPUN…
sabili, 26 June 2009Bila anda berhadapan dengan orang yang berlainan pendapat dengan anda, dengar dan hormatilah dia, sekalipun anda tidak berpuas hati dengan pandangannya, walaupun perbezaan pendapat itu sejauh timur dan barat, bahkan walaupun perbezaan itu dalam hal aqidah.
Demikianlah sikap Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) yang mesti kita teladani.
Ibn Hisham meriwayatkan dari Ibn Ishaq bahawa ‘Utbah ibn Rabi’ah (salah seorang pemimpin Quraisy yang memiliki pengaruh besar di kalangan kaumnya) pernah berkata:
“Wahai kaum Quraisy, aku akan pergi menghadap Muhammad untuk mengemukakan beberapa perkara, semoga beliau dapat menerima sebahagiannya dan kita akan berikan yang mana satu dia mahu sehingga dia berhenti daripada menghentam kita”, Orang Quraisy spontan menjawab: “Tentu Ya Aba Al-Walid (panggilan bagi ‘Utbah), pergilah dan cakaplah kepadanya”.
‘Utbahpun bergegas menemui Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) lalu dia duduk dekat dengan Baginda kemudian berkata: “Wahai anak saudara ku, kedudukan, kemuliaan dan keturunanmu di sisi kami adalah sebagaimana yang engkau maklum, tapi engkau telah membawa suatu perkara besar kepada kaum engkau, engkau telah porak porandakan kesatuan mereka dan engkau telah rendahkan pemimpin mereka, sekarang dengarlah, aku akan kemukakan beberapa perkara semoga engkau boleh menerima sebahagiannya”.
Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) menjawab : “Ya saya akan mendengarnya”.
‘Utbah melanjutkan hasratnya sambil mengatakan “Wahai anak saudaraku, jika perkara yang engkau bawa selama ini bertujuan hendak mengumpul harta, kami akan kumpulkan harta-harta kami untuk engkau sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di kalangan kami, atau jika kemuliaan yang engkau cari, kami akan lantik engkau jadi pemimpin kami di mana kami tidak akan putuskan sesuatu perkara tanpa kehadiranmu, atau jika engkau nak jadi raja, kami lantik engkau jadi raja kami, atau perkara yang engkau bawa ini mendatangkan sejenis penyakit jiwa yang tak mampu engkau membuangnya dari dirimu, kami akan cari bomoh dan kami akan tanggung semua pembiayaannya dengan uang kami sehingga engkau sembuh".
Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) berkata : “Sudah selesai wahai Aba Al-Walid?”. “Ya” jawab ‘Utbah.
“Sekarang dengar pula dari aku” sambung Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam), Bagindapun membaca :
"حم ، تنزيل من الرحمن الرحيم، كتاب فصلت آياته قرآنا عربياً لقوم يعلمون، بشيراً ونذيراً فأعرض أكثرهم فهم لا يسمعون، وقالوا قلوبنا في أكنة مما تدعونا إليه وفي آذاننا وقر ومن بيننا وبينك حجاب فاعمل إننا عاملون. قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فاستقيموا إليه واستغفروه ، وويل للمشركين".
Maksudnya :
1. Haa Miim.
2. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
3. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk
kaum yang mengetahui,
4. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan
mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.
5. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu
seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada
dinding, Maka Bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami bekerja (pula)."
6. Katakanlah: "Bahwasanya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan
kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada
jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan Kecelakaan
besarlah bagi orang- orang yang mempersekutukan-Nya. (Q.S.Fussilat:1-6)
Kemudian Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) terus membaca ayat tersebut dalam keadaan ‘Utbah tekun mendengarnya, sehinggalah sampai kepada ayat:
"فإن أعرضوا فقل أنذرتكم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود".
Maksudnya:
13. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: "Aku Telah memperingatkan kamu dengan
petir,seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud". (Q.S.Fussilat:13)
‘Utbahpun cuba menutup mulut Baginda seraya menahannya dari terus membaca kerana takut mendengar kandungan ayat tersebut yang berisi ancaman.
Kemudian ‘Utbah pulang kepada kuncu-kuncunya, setelah duduk, mereka bertanya apa gerangan berita yang dia bawa. Beliau cuba menjelaskan dengan bersumpah atas nama Allah bahawa dia telah mendengar ungkapan-ungkapan yang sama sekali belum pernah didengarnya, bukan syair, bukan sihir dan bukan pula mentera. Lalu dia menyeru: “ Wahai semua bangsa Quraisy, patuhlah padaku, biarkan lelaki itu dengan keadaanya dan tinggalkan dia, demi Allah, sesungguhnya aku telah mendengar daripadanya berita agung, seandainya bangsa Arab mendapatinya mereka akan merasakan suatu kesempurnaan tanpa orang lain, jika dia muncul di kalangan bangsa arab maka kekuasaanya adalah kekuasaan kamu dan kaemuliaannya adalah kemuliaan kamu”.
Mereka menempelak ‘Utbah dan berkata: “Demi Allah, engkau telah terkena sihir melalui ucapannya wahai Aba Al-Walid”
“Ini pandanganku, terpulang apa yang mahu kamu lakukan” jawab ‘Utbah.
Nah, mari kita menelaah sejenak.
Sikap sebegini adalah sikap toleran yang amat tinggi dan terhormat, sepatutnya ia tidak berlalu begitu sahaja tanpa memberi sebarang kesan iktibar dan nasihat kepada kita, lebih-lebih lagi pelakunya adalah Rasulullah (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) yang wajib kita ittiba’ dan teladani berdasarkan firman Allah :
" لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا"
Maksudnya:
21. Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(Q.S. Al-Ahzab:21)
Noktah terpenting dalam kisah ini yang mesti dijadikan tauladan ialah bahawa perbezaan pendapat dengan pihak lain bukanlah merupakan tiket bebas bagi kita untuk menceroboh hak-hak peribadinya dengan mendedahkan segala kekurangan dan kelemahannya atau menafikan sama sekali segala kebaikan yang ada padanya.
Mari kita semak besama.
Pertama:
‘Utbah memang seorang kafir, tetapi kekufurannya tersebut tidak menghalangnya untuk diiktiraf sebagai orang yang begitu hebat, sehingga periwayat kisah di atas masih meriwayatkan bahawa ‘Utbah sebagai seorang pemimpin dan mempunyai pandangan yang bernas di kalangan kaumnya. [ وكان سيداً ذا بصيرة ورأي في قومه]
Kedua:
Sekalipun ia datang dari mulut ‘Utbah, tapi perlu kita fikirkan, iaitu mukaddimah perbincangan dia mulakan dengan titik persamaan yang boleh memberi kesan mendalam, dia tidak menerjah dengan mengemukakan point-point perselisihan, ingat apa kata ‘Utbah kepada Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) sebaik sahaja dia duduk dekat dengan Baginda: “Wahai anak saudaraku”, kemudian dia susul dengan “kedudukan, kemuliaan dan keturunanmu di sisi kami adalah sebagaimana yang engkau maklum”.
Ketiga:
Tiada ancaman atau paksaan dalam perbualan, tetapi kes diungkapkan dengan keterbukaan dan kebebasan pemikiran, kata ‘Utbah: “dengarlah dariku, aku akan mengemukakan beberapa perkara untuk engkau teliti dan menerima sebahagiannya”.
Demikian juga ketika giliran Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) pula menjawab dengan penuh adab dan sopan: “Ya saya akan mendengarnya wahai Aba Al-Walid”.
Baginda menghulurkan prinsip komunikasi yang disulami dengan kelemah lembutan dan kemaafan. Pada hal Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) boleh-boleh saja tidak berbuat demikian dengan menutup jalan dari awal-awal lagi, kerana apa yang dibawa oleh Baginda tidak mengenal menyerah, hanya ada satu pilihan, samada beriman bagi yang mahu beriman atau kufur bagi yang mahu kufur tanpa ada pilihan di antara keduanya.
Walaupun demikian, Baginda masih menampilkan prinsip komunikasi yang baik dan jitu sebagaiman kita lihat.
Bahkan lebih daripada itu, Baginda tetap memberi peluang bagi ‘Utbah untuk mengemukakan sudut pandangnya tanpa memotong percakapannya sekalipun, sedangkan perbezaan itu sangat mendasar, iaitu tuduhan-tuduhan dan cercaan-cercaan liar.
Oh, sungguh tauladan dan budi pekerti yang tinggi.
Bagaimana dan dimana kedudukan kita dalam hal ini??
Kebanyakan – kalaupun tidak keseluruhan – kita sangat kedekut dan susah untuk sudi memaafkan dan memberi ruang yang secukupnya bagi pihak lawan untuk mengemukakan sudut pandangnya yang kita ragukan, sebaliknya kita akan menutup peluangnya berbicara, bahkan kalau boleh kita berusaha menolak secupaknya dengan sepuluh cupak kita.
Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) dalam kes ini diam dari beribu bahasa sehinggalah lawannya selesai mengemukakan pandangannya, kemudian dengan sopannya Baginda memulakan bicara dengan bertanya “Sudah selesai wahai Aba Al-Walid?”.
Lihat, Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) memanggil Abu Al-Walid dengan gelaran kegemarannya untuk mempamerkan rasa persahabatan. Di situ ada suri tauladan, bukan?.
Begitu ‘Utbah menjawab “Ya”, Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) terus berkata lagi: “Sekarang, dengarlah dariku”.
Ketenangan, kepercayaan, penghormatan, keterbukaan dan katakanlah apa sahaja, semua itu adalah perkara-perkara yang mesti kita miliki bila berbual bicara dengan orang lain kalau kita jujur mahu mengikuti jejak Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam), bukan dengan memberi gelaran tertentu yang tidak berasas yang dibumbui dengan kata-kata kesat dan kasar sedang lawan bicara kita tidaklah seteruk Firaun dan kitapun tidak sehebat Nabi Musa yang sentiasa diperintah Allah agar berucap dengan perkataan yang lemah lembut, sesuai dengan firmanNya dalam Surah Taha 44:
فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أويخشى
Maksudnya :
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Perkara penting lain ialah cara Rasul (Sallallahu ‘Alihi Wa Sallam) memberikan hujjahnya kepada kawan bicara, iaitu dengan berdalilkan Al-Quran sebagai hujjah yang mantap, kuat dan bersesuaian dengan keadaan.
‘Utbah seorang lelaki yang bijak dan berpandangan jauh, begitu juga orang yang seumpama dengannya sangat mudah menerima pandangan yang dilandasi dengan logika dan kebenaran yang ikhlas dan tulus, sebab mereka bukannya tak mengerti cara dan gaya interaksi kita.
Jadi hujjah kita mestilah kuat dan tiada yang lebih kuat dan mantap selain daripada Al-Quran.
Sebenarnya, kisah ini banyak memberi kita pelajaran dan pedoman lebih dari apa yang dipaparkan.
Ambillah iktibar wahai orang bijaksana…………
Saya hanya bijaksini.
Mahukah Anda Jadi Orang Yang Pertama ?
sabili, 08 June 2009Sayang ....
ZUL JAUSHAN AL-DHABBABIY
Bukan Orang Yang PERTAMA.
Ada seorang sahabat Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) yang bernama Zul Jaushan Al-Dhabbabiy, namanya agak pelik sedikit (selepas ini kita sebut sahaja Zul, untuk ringkas). Oleh yang demikian kisah sahabat ini adalah suatu kisah yang menyentuh kita semua, kisahnya sangat sederhana…
Selepas berakhirnya perang Badar, Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) menemuinya, (pada masa itu orang-orang Islam telah menang, walaupun belum begitu pasti, sebab orang-orang Quraisy masih kuat dan masih ada lagi peperangan yang berlaku antara orang-orang Islam dengan mereka, bahkan Zul masih belum memeluk Islam ketika itu). Lalu Baginda (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) mengatakan sesuatu kepadanya.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) kepadanya, sebenarnya Rasul(Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam)mahu mengemukakan Islam. Bayangkan, jika di antara kita ada yang hendak mengemukakan Islam kepada seseorang, tentu soalan yang biasa pada keadaan seperti ini ialah : “Mahukah anda menjadi orang Islam?”...
Namun Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) tidak menanyakan hal seperti itu, Baginda (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) hanya mengatakan kepada Zul “ Mahukah anda mejadi salah seoarang di kalangan orang-orang yang PERTAMA ?
Mari kita berhenti sejenak di sini... dan kita perhatikan kalimat “PERTAMA” yanng mempunyai empat atau lima perkara penting.
Mengapa Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) menggunakan perkataan PERTAMA dan tidak mengatakan “Mahukah anda menjadi orang Islam?”
Sebab, diri manusia ini sentiasa mahukan agar dia menjadi orang yang pertama. Agaknya itulah punca kebanyakan pemuda-pemudi tidak akan membeli sesuatu pakaian tertentu jika orang lain sudah banyak memakainya, begitu juga kebanyakan mereka tidak mahu menggunakan jenis minyak wangi tertentu disebabkan hal yang sama.
Mengapa semua ini terjadi??....
Kerana semua manusia berkeinginan untuk menjadi orang pertama, dia mahu berbeza daripada orang lain, oleh sebab itu Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) mengetuk dalaman Zul dengan cara ini.
Ini perkara penting, bukan cerita kosong, hal ini suatu yang perah dikatakan lebih dari 14 abad yang lalu...
Mahukah anda menjadi salah seorang di antara orang-orang yang pertama?
Orang pertama dalam hal apa?
Cuba anda solat subuh di suatu kampung yang besar yang tak seorang pun sembahyang subuh di situ...
Cuba anda menjadi orang yang pertama mempelajari al-Quran dengan cara yang betul,
sementara orang di sekeliling anda asyik mempelajari bahasa Inggeris, matematic ataupun sains, namun jika mereka disuruh membaca Al-Quran, mereka tidak dapat membacanya dengan cara yang betul, bahkan lebih menyayat hati ada yang sudah berani menghina Al-Quran sedemikian rupa, 
Tak terpanggilkah anda untuk menjadi orang yang pertama memuliakan Al-Quran???
Ya Allah, berikanlah kami kekuatan iman supaya kami menjadi sebahagian dari orang yang pertama membela dan memuliakan Kitab SuciMu. Aamiin.
Mahukah anda menjadi orang yang pertama bangun sebelum fajar untuk mendirikan solat walhal orang-orang di sekeliling anda sedang nyenyak tidur dan anda sanggup mengatakan kepada Allah Azza Wa Jalla “Aku bangun untuk menegakkan solat di hadapan Mu ya Allah sementara orang lain masih tertidur lena. 
Sukakah anda dikategorikan dalam senarai orang-orang yang dapat membaca al-Quran di suatu negeri yang sangat sedikit orang yang pandai membaca al-Quran dengan baik.
Sukakah anda disenaraikan di kalangan orang-orang yang dapat berbakti atau mencium tangan ayah dan ibu yang jika kedua mereka ditanya samada mereka reda terhadap anak-anak mereka atau tidak (mereka akan menjawab: “Kami reda ya Tuhan”) pada hal teman di sekeliling anda banyak yang derhaka terhadap ibubapa mereka yang mungkin dibalas Allah dengan azab di dunia ini??(seperti gambar di sebelah kanan ini)

Jika anda sanggup melakukannya pada masa ini, anda termasuk di kalangan orang yang pertama.
Nabi Muhammad (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) mengatakan ayat ini untuk menyentuh hati Zul dan juga menyentuh hati kita bersama.
Tidak mahukah anda menjadi orang yang pertama ??? Atau anda tidak menginginkannya sama sekali???
Sebelum kita lanjutkan apa yang terjadi, untuk kali yang kedua... marilah berfikir sejenak... “adakah anda mahu menjadi orang yang pertama?”
Apa yang terjadi seterusnya? Zul tidak mengambil berat pertanyaan Baginda SAW tersebut. Bahkan ketika Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) bertanya kepadanya: “Wahai Zul Jaushan mahukah engkau menjadi orang yang pertama ?” Zul menjawab: “Tidak, aku lihat dahulu, jika engkau menang, aku akan ikut, tetapi jika engkau kalah, aku tidak akan mendapat apa-apa musibah”. Seolah-olah dia mahu memegang tongkat pada pertengahannya.
Oh, sungguh malang…
Demikianlah kebanyakan generasi muda sekarang, ada yang mengatakan: “Aku ikut teman-temanku, jika mereka melakukan kebaikan, akupun melakukan kebaikan juga, dan jika mereka melakukan kejahatan, akupun sama juga, aku tidak memiliki sakhsiah (keperibadian) yang kukuh, aku tidak ada pendirian, jika mereka melakukan maksiat akupun melakukannya, dan kalau mereka pergi belajar agama akupun ikut sama”.
Mana sakhsiah anda?... anda tidak mempunyai sakhsiah kalau begitu.
Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) pernah bersabda kepada orang yang seperti ini: “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan tanpa sakhsiah dan terombang ambing, yang selalu mengatakan “Jika orang lain berbuat baik akupun berbuat baik, dan jika mereka melakukan kejahatan akupun melakukan kejahatan, tapi waththinu anfusakum, jika orang berbuat baik, berbuat baiklah kamu, jika mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu melakukan kezaliman” (H.R.Al-Tirmizi)
Perhatikan kalimat “waththinu anfusakum” maksudnya: peganglah agamamu dengan tanganmu dan gigimu. Dan kalimat waththinu berasal dari “wathan” iaitu “tanah air”, maksudnya hubungan seseorang dengan tanah airnya sangat kuat, oleh sebab itu jadikanlah hubunganmu dengan agamamu sama seperti hubunganmu dengan tanah airmu.
Kita teruskan cerita Zul yang tidak mengindahkan sabda Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) dan tetap dalam kekufuran serta menolak Islam...
Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) melihat Zul
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun telah berlalu…. mari kita lihat… sudahkah wanita-wanita menutup aurat mereka? sudahkah kaum lelaki mengerjakan solat? atau mereka masih kekal dalam keadaan yang sama seperti dahulu dan masih tidak mahu menjadi orang yang pertama di sisi Allah?...
Kita teruskan…
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun telah berlalu, akhirnya Islam menang, kota Makkah dapat ditakluki, Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) memasuki Makkah bersama dengan sepuluh ribu sahabat-sahabatnya, dan orang memeluk Islam berduyun-duyun, patung dan berhala telah dipecahkan, wanita-wanita sudah menutup aurat, kaum lelaki pun telah mendirikan solat…
Di tengah ribuan manusia itu, kelihatan pula Zul datang menemui Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam), Baginda pun senyum kepadanya dengan sedikit marah, Zul terus berkata: “Asyhadu An Laa Ilaaha Illa Allah, Wa Asyhadu Annaka Rasulullah”
Demikian berakhirnya kisah ini… namun masih ada sebaris catatan yang dikatakan oleh perawi hadis ini, iaitu:
“Aku melihat Zul Jaushan menggigit jarinya kerana dia tidak menjadi orang yang pertama”
Fahamkah kita? Sudahkah sampai pemahaman itu kedalam hati kita semua?
Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) ada mengatakan: “Ibadah pada waktu haraj sama seperti hijrah dari Makkah ke Madinah” maksudnya ialah beribadah kepada Allah pada waktu orang-orang lain sedang menjauhi Nya, pahalanya sama dengan pahala hijrah dari Makkah ke Madinah. Anda lihatlah pahala yang sangat besar itu.
Masih ada satu pertanyaan untuk anda: “Mahukah anda menjadi orang yang pertama?”
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu bangsa, sehinggalah bangsa itu mengubah keadaan mereka sendiri" (Al-Quran, Surah Al-Raad:11)
Cacian Gaya Moden
sabili, 20 May 2009"Orang Mukmin semestinya berkata baik atau diam"
(maksud hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Namun sesetengah orang sudah terbiasa dengan kekasaran dan kekerasan jiwanya yang ditonjolkan melalui kata-kata kesat tanpa berdasarkan hujjah dan alasan tepat yang disulami dengan kutukan dan makian. Pada hal Rasul(Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) mengatakan bahawa pengutuk itu tidak akan memberi syafaat dan penyaksian pada hari qiamat nanti (H.R.Muslim) sebagaimana dalam hadis yang lain Baginda (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) menegaskan bahawa sebagai seorang mukmin semestinya tidak mengutuk, mencaci, berkata keji atau berkata kotor (Hadis 'Ala syart Al-Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah mencucuri Rahmat-Nya ke atas orang berkata baik yang berkat, atau orang diam yang selamat.
Berbeza pendapat bukanlah merupakan suatu kesalahan, tetapi masalah yang diperselisihkan itu mestilah diungkai dengan hujjah yang bernas dan ungkapan yang berhemah yang berprinsipkan kemanusiaan yang dituturkan dari jiwa yang suci,pikiran yang matang dan etika yang tinggi.
Memang kita semua sedar bahawa sekarang ummat sedang dilanda bermacam krisis yang mencekam, bagaikan sampan yang sedang dilambung ombak, terhoyong-hayang ke kiri dan kanan, semua yang berada di atasnya menanti saat-saat karam, jeritan suara terdengar di sana-sini, ada suara yang menenangkan lagi menyejukkan hati, tak kurang juga suara marah, kasar dan kesat yang menghamburkan kutukan dan cercaan,menyangka semua orang salah dan sesat kecuali dirinya, kerana kononnya dia sebagai penaung dan pemimpin ummat, dia membeli dunia dan menjual akhiratnya, sementara yang lain bertungkus lumus dan lemah longlai,.
Alangkah buruk pribadi seseorang yang menganggap dirinya sentiasa baik, sementara orang lain pada pandangannya salah dan jahat belaka.
Bukankah mereka saudara dan sebahagian daripada kita yang sepatutnya kita mesti berprasangka baik kepada mereka sebagaimana kita berprasangka baik terhadap diri kita sendiri.
Allah berfirman:
ياأيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خير منهن ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوابالألقب بئس الاسم الفسوق بعد الإيمن ومن لم يتب فأولـئك هم الظلمون
Yang bemaksud:
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan, dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. ”(Q.S.Al-Hujurat:11)
CACIAN ELEKTRONIK DAN SMS
Pada masa ini telah muncul bagaikan cendawan tumbuh selepas hujan iaitu budaya mencaci dan mencerca dengan elektronik melalui internet, cacian tak berbayar dan tanpa batas, atas nama kebebasan.
Sebenarnya hal itu termasuk dalam kategori « mujaharah bi al-suuk » iaitu mengerjakan kejahatan secara terang-terangan. Rasul (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) ada mengatakan bahawa "Semua ummatku dimaafkan, kecuali al-mujahirin" yakni orang yang mengerjakan kejahatan secara terang-terangan. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Ia merupakan cacian terus yang berselindung di belakang nama atau gelaran dan bebas dari sebarang ikatan dan peraturan.
Perkataan benar dan jujur tidak akan menghina dan tiada orang yang berusaha menghentikannya.
Berbeza dengan orang yang mencaci dengan elektronik ini, yang merasa megah dengan sokongan atau bantahan orang ramai dan dia beranggapan bahawa dia telah mencipta suatu sejarah baru.
Ada lagi cara cacian moden yang lain, iaitu cacian melalui sistem pesanan ringkas atau SMS, yang berselindung di sebalik telephon selular, melemparkan kata-kata kesat dan keji dan menganggap itu adalah suatu tindakan berani dan hebat.
Betul memang berani dan memang hebat. Berani mencuri dan menceroboh rumah-rumah orang atau hak-hak individu tanpa segan silu. Itu adalah keberanian meredah kebinasaan.
Dalam hadis sahih Nabi (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) ada bersabda : “Perumpamaan aku dan manusia ialah bagaikan seorang yang menghidupkan api, bilamana api telahpun menerangi persekitarannya, mulailah kekatu berterbangan ke arahnya kemudian terbakar, dia berusaha menghalang dan menghalaunya, tetapi kekatu itu tidak mempedulinya dan terus menerjah ke arah api lalu terbakar, jadi… aku berusaha mengalang kamu dari api, tetapi kamu terus menerus berusaha menerjah ke arah api itu”. (H.R.Al-Bukhari dan Muslim)
Cacian-cacian seperti ini, bukan sekedar tidak berasas malahan melencong jauh dari prinsip-prinsip dan nilai- nilai kebenaran, bertindak secara membabi buta dan dendam peribadi, jauh sekali menolong kebenaran atau memuliakan agama.
bersambung.......
Bukan Salahnya
sabili, 19 May 2009
Ada seorang kanak-kanak, namanya Amira cepat sekali memahami pelajaran yang disampaikan guru-gurunya, dalam beberapa saat dia sudah dapat memahami dan tahu cara mengerjakan tugasnya dengan baik. Tak heranlah, Amira sangat disukai oleh guru maupun ibu bapanya. Dia cepat memahami dan juga cepat menyelesaikan tugasan yang diberikan.
Lain halnya dengan Badrul, dia tidak cukup hanya sekali mendengarkan penjelasan dari guru, seringkali harus berulang-ulang. Penyelesaian tugasnya pun tidak juga segera selesai. Ada saja yang mengalihkan perhatian dan tumpuannya. Akan tetapi walaupun lambat, tugasannya selesai juga.
Lain pula dengan Chacha, aktivitinya di kelas menyusahkan guru untuk menjejaki kemampuannya. Ketika teman-temannya belajar, dia sering sibuk dengan kegiatannya sendiri; berjalan keliling kelas, bermain dengan pensilnya, atau menggambar. Berulangkali guru harus mengingatkannya untuk mengerjakan tugas yang belum juga selesai. Tetapi suatu ketika ternyata dia sudah hafal surah Yaasin seperti teman-temannya, dia sudah dapat menyelesaikan tugasan math dan sainsnya dan juga pelajaran yang lain.
Amira adalah jenis Pelari yang seringkali belajar dengan kecepatan tinggi, Badrul adalah jenis Pejalan yang belajar dengan kecepatan perlahan tetapi terus melaju ke depan. Sedangkan Chacha adalah jenis Pelompat yang seringkali kita tak perasan ternyata dia sudah ke hadapan.
Menjadi Pelari, Pejalan atau pun Pelompat bukanlah hal yang buruk. Tapi sebagai penjaga dan pendidik mestilah mencari suatu kaedah yang dapat memberi perhatian maksimal agar Pelari tidak bosan dengan gaya belajarnya, Pejalan tetap tekun dengan pekerjaannya dan Pelompat dapat melompat lebih jauh ke depan.

